Rabu, 19 Oktober 2011

KRETEK JAWA

Kretek bukan sekadar komoditi. Dalam perjalanan sejarahnya ia juga membentuk sebuah kultur. Tidak hanya memasyarakatnya kebiasaan mengisap kretek, namun juga dampak industrialisasi kretek itu sendiri. Kebiasaan mengisap rokok sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat, khususnya Jawa. Sejumlah sumber susastra lama menyiratkan hal itu, meskipun tidak ada kejelasan apakah apa yang mereka isap saat itu merupakan rokok tembakau seperti yang kita kenal sekarang. Menurut hasil rieset Zoetmulder yang dikutip dalam buku ini, dalam kitab-kitab lama ada kata dasar udud yang diartikan sebagai rokok. Jika benar kata udud memiliki arti rokok seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa saat ini, maka itu berarti kebiasaan merokok sudah dikenal lama dalam masyarakat Jawa.
Lalu dari mana asal-usul kata kretek? Kretek diperkirakan muncul berdasarkan onomatope atau sebutan yang dimunculkan berdasarkan bunyi. Hal ini disebabkan rokok tembakau yang ditambah cengkeh akan menimbulkan bunyi kretek-kretek. Ada beberapa hal menarik yang disampaikan dalam buku ini. Salah satunya adalah mengenai buruh pabrik kretek. Sebuah pabrik kretek besar di Kudus, Jawa Tengah, misalnya, menjadi gantungan hidup bagi 75.000 buruh, baik dari Kudus ataupun kota-kota di sekitarnya. Para buruh ini terutama bekerja untuk memproduksi kretek lintingan. Kretek lintingan tidak diproduksi dengan mesin, melainkan mengandalkan kelincahan, kecepatan dan keterampilan jemari para buruh. Dari data yang ada, kehadiran para buruh kretek ini berhasil menggerakkan roda ekonomi lainnya. Sebut saja pemilik mobil angkutan umum, perahu penyeberangan, hingga para pedagang, rentenir, penitipan sepeda, yang hadir saat pasar dadakan muncul di sekitar brak (barak) penampungan para buruh. Dapat diduga, akan ada banyak sendi ekonomi rakyat yang lumpuh jika industri rokok mengalami kebangkrutan. Apalagi kini kampanye anti rokok kian gencar. Tampaknya otoritas terkait harus memberikan solusi jika memang industri rokok harus dibatasi.
Hal menarik lain yang diungkap dalam buku ini adalah mengenai label produk kretek yang beredar di pasaran. Dalam buku ini terungkap, pemberian label tidak sekadar perkara visual, namun juga bentuk simbolik dari ruang lingkup kebudayaan di jamannya, yang disebut juga sebagai “simbol ekspresif”. Lalu bagaimana dengan merek? Merek pun memiliki cerita lain. Buku ini mengungkapkan merek atau brand kretek selalu berkaitan dengan filosofi, keyakinan, dan inspirasi. Merek seakan memiliki kebermaknaan, baik bagi produsen kretek maupun konsumennya. Memilih merek pun sering dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mengaitkannya dengan harapan-harapan, falsafah yang diyakini akan membawa dampak positif. Etnis Tionghoa misalnya mengombinasikan benda ataupun angka agar produknya lebih mudah diterima masyarakat.
Buku ini secara umum berisi sejarah industri kretek, terutama sebelum masa kemerdekaan. Dari paparan sejarah tersebut pembaca dapat melihat pasang surut indutri kretek di Jawa. Dari sini dapat dinilai pengelolaan komoditi secara benar dapat memberikan banyak manfaat bagi pendapatan negara.

Judul                : Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya
Penulis             : Rudy Badil
Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman         : 171 halaman
Terbit              : Agustus 2011

RESENSI

Resensi adalah tulisan yang berisi menimbang atau menilai sebuah karya yang dikarang atau dicipta orang lain. Resensi itu asal katanya dari bahasa Belanda recensie. Karya yang dinilai dalam tulisan resensi meliputi buku, film, teater, lagu, dan semacamnya.  Secara umum, resensi dibagi menjadi 3, yaitu:
-          menggambarkan dan menjelaskan tentang karya seseorang secara menyeluruh,baik dari segi isi, penulisannya, maupun penciptanya. Resensi deskriptif ini tidak sampai pada penilaian kritik (bagus/tidak) si penulis terhadap karya yang dia resensi. Dia hanya menjelaskan secara singkat tentang isi, proses, dan pencipta sebuah karya.
-          resensi dengan karakter kedua ini melakukan penilaian terhadap sebuah karya lebih dalam dari yang pertama. Dia tidak hanya menggambarkan, tapi menilai sebuah karya secara keseluruhan dengan kritis dan argumentatif. Sehingga ada kesimpulan pada akhir resensi, apakah karya yang diresensi baik kualitasnya atau tidak.
-          resensi macam ketiga ini mencoba melakukan penilaian pada sebuah karya dengan cara membandingkan karya orang lain yang memiliki kesamaan atau keterkaitan secara isi dan materi. Disebut sulit, sebab selain membutuhkan analisa mendalam dan kritis, resensi macam ketiga ini membutuhkan pengetahuan dan wawasan luas. Tidak hanya satu karya yang harus dipahami, namun karya-karya lain yang berhubungan dengan karya yang diresensi harus pula dipahami.

Tujuan resensi buku adalah mengomunikasikan penilaian yang sudah ditimbang masak-masak
pada pembaca lain, agar mereka memutuskan ingin membaca buku tersebut atau tidak. Penting menyajikan resensi yang mudah dipahami pembaca, mampu memenuhi kebutuhan dan karakteristik mereka. Pembaca diharapkan akan mempertimbangkan pula masukan tersebut. Untuk mempermudah penulisannya dalam resensi buku, berikut beberapa upaya yang dilakukan:
-          Baca isi buku dengan pemahaman keilmuan yang kita miliki. Seorang yang tidak menguasaiteori sastra sama sekali, jelas akan kesulitan menganalisa buku sastra.
-          Peresensi yang baik setidaknya membaca isi buku secara lengkap, jika perlu berulang-ulangdan membandingkan dengan beberapa buku serupa. Tapi ini akan merepotkan danmenghabiskan energi. Peresensi yang demikian biasanya untuk penulisan jenis resensi kritik.Untuk jenis resensi informatif atau deskriptif, kita hanya mencari bagian-bagian point of viewdari tema buku, termasuk kata pengantar dan epilog. Namun demikian,hanya bisa diterapkan. Untuk mengulas buku ilmiah yang dimana bab per babnya disusun secara baku dan teratur dan buku jenis novel jelas tidak bisa diterapkan.
-          Pilih tema pokok yang ingin anda jelaskan dalam resensi. Point of view atau angle tidak boleh lebih dari satu. Hal ini untuk menghindari melebarnya pembahasan dari tema pokok.
-          Kutip beberapa materi dari isi buku sebagai data ulasan
-          Berikan penjelasan pada tulisan utama secara singkat dan deskriptif isi buku
-          Materi isi buku dijabarkan pada bagian struktur atau badan penulisan
-          Akhiri penulisan dengan komentar singkat. Peresensi yang baik akan menyanjung dan mengkritik secara objektif dan proporsional. Dan posisi peresensi dalam hal ini adalah sama dengan ilmuwan. Tak boleh subjektif dan distortif dalam menyampaikan ulasan.