Senin, 26 September 2011

PROFIL PRIBADI

Nama saya adalah Fakhri Zulfikar, anak ke-3 dari 3 bersaudara. Saya beragama islam dan lahir pada tanggal 11 Desember 1991 diJakarta, dan saya sekarang berumur 19 tahun. Saya tinggal bersama orang tua dan kakak-kakak saya yang beralamat di Jalan Raya Penggilingan no.12 Rt.004 Rw.06 kecamatan Cakung Jakarta Timur.
Dalam dunia pendidikan saya memulai dengan memasuki TK (taman kanak-kanak) kasih ananda yang pada saat itu kira-kira berumur 5 tahun, selama saya disana sangat diajarkan kedisiplinan dalam segala sesuatu tetapi juga ada waktu untuk bermainnya. Lalu sekitar tahun 1998 saya mulai masuk SD (sekolah dasar) di SD Negeri 01 Penggilingan Jakarta Timur. Disana saya mengalami pembelajaran yang lebih meningkat dari sebelumnya, dan sekitar tahun 2003 saya lulus dari SD dan lanjut ke SMP Negeri 216 Jakarta yang beralamat  Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat. Disana saya pada awalnya masih sangat susah untuk menyesuaikan keadaannya karena letak dari rumah kesekolah itu sangatlah jauh, namun lama kemudian saya sudah bisa menyesuaikan dengan keadaan sekolah tersebut. Tahun 2006 saya lulus dari SMP dan lanjut ke tingkat SMA Negeri 4 Jakarta yang beralamat Jalan Batu Gambir Jakarta Pusat. Pada saat SMA saya sangat menikmati masa-masanya karena banyak orang berkata bahwa masa SMA sangatlah seru dijalaninnya. Selama 3 tahun saya sekolah dan akhirnya pada tahun 2009, saya lulus dari SMA yang langsung saya lanjutkan ke tingkat Perguruan Tinggi di Gunadarma Bekasi hingga sampai sekarang. Di Perguruan Tinggi ini saya mengambil jurusan Akuntansi yang saya harapkan dikemudian hari bisa menjadi akuntan public sesuai dengan perencanaan saya.
Selain itu kepribadian menurut saya adalah saya orang yang sangat komunikatif, loyalitas, fleksibel, memiliki motivasi yang tinggi dan mempunyai komitmen yang baik. Namun kejelekan dari kepribadian saya adalah saya sangat egois dan mudah putus asa. Namun dari semua itu mungkin orang lain lah yang dapat menilai diri saya secara lebih tepat.        

Jumat, 23 September 2011

Penalaran Induktif dan Deduktif

Penalaran merupakan suatu cara seseorang mengunakan nalarnya dalam menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan dikemukakannya kepada orang lain.
Ada dua macam pola penalaran, yaitu:

•Metode Induktif
Metode induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Bentuk dari metode induktif adalah generalisasi dan analogi.
Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Prosesnya disebut induksi. Penalaran induktif dapat berbentuk generalisasi, analogi, atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses berpikir berdasarkan hasil pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Analogi merupakan cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan akibat-akibat.
Jenis-jenis penalaran induktif antara lain :
1.Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contoh Generalisasi :
• Nikita Willy adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
• Marshanda adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
Generalisasi:
Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya:
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.


2. Analogi
Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Analogi mempunyai 4 fungsi,antara lain :
•Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan
•Meramalkan kesaman
•Menyingkapkan kekeliruan
•klasifikasi

Contoh analogi :
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
•Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan umum ke individual.
Penalaran deduktif adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya, apa yang dikemukakan dalam kesimpulan sudah tersirat dalam premisnya. Jadi, proses deduksi sebenarnya tidak menghasilkan suatu konsep baru, melainkan pernyataan atau kesimpulan yang muncul sebagai konsistensi premis-premisnya.

Contoh klasik dari penalaran deduktif:
• Semua manusia pasti mati (premis mayor)
• Sokrates adalah manusia (premis minor)
• Sokrates pasti mati (kesimpulan)

Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat. Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif.