Rabu, 03 Oktober 2012

Cara Membuat Artikel


Artikel merupakan karya tulis yang dibuat secara lengkap, dan biasanya artikel berisi secara logis, tuntas, objektif, jelas dan padat. Dan menurut saya ada keuntungan ketika kita memiliki artikel yaitu bisa saja apabila kita memiliki artikel yang unik atau bagus maka bisa menjadi urutan pertama di google tetapi selain unik artikel yang kita miliki haruslah memilkiki manfaat yang baik agar sering dicari oleh pengunjung karna semakin baik artikel yang dibuat maka semakin bermanfaat dan berdampak baik untuk artikel yang dibuat. Selain itu dimana ada keuntungan adapun kerugian, kerugian dari artikel adalah banyak orang yang disebut plagiarism atau copaser yang memanfaatkan dari artikel kita yang biasanya berurutan pertama digoogle akan tetapi ada baiknya bila melakukan copy paste ada baiknya member atau memuatkan link dari yang kita lihat sebelumnya.
Berikut cara membuat artikel :
-          Menentukan Tema
Dalam membuat artikel menentukan tema merupakan hal paling dasar yang harus dilakukan, karna tema merupakan panduan sebagaimana artikel bisa dibuat. Karna dalam tema kita bisa mengetahui segala hal yang harus dibat untuk menentukan tujuan artikel yang dibuat.
-          Menyusun Kerangka Dasar
Kerangka dasar adalah susunan aspek yang akan ditulis dari awal hingga akhir kegiatan menulis artikel. Ini sangat penting karena hal tersebut akan mengatur semua komponen artikel dalam suatu susunan yang logis dan selain itu kerangka dasar penulisan menjaga penulis agar tetap fokus pada tema artikel dan juga mengarahkan proses penulisan itu sendiri.
-          Menerapkan Kata Kunci
Kata kunci adalah kata-kata yang mengandung konsep pokok yang dibahas dalam artikel yang dibuat. Buatlah kata kunci yang paling baik yang dapat mewakili tema dari artikel tersebut. Kata kunci sangat penting dalam pengindeksan artikel karna dengan demikian artikel tersebut bisa menjadi cepat terkenal oleh orang-orang, khususnya pengunjung yang mengakseskan internet.
-          Penulisan Artikel
Dalam menulis artikel menurut saya janganlah terlalu banyak, karena dalam artikel didasarkan pada informasi yang dijelaskan secara jelas,singkat dan padat dan pada intinya nyambung sesuai dengan tema pada artikel tersebut. Gunakan bahasa baku dalam penulisan artikel
-          Publikasi Artikel
Ketika penulisan telah selesai maka hal yang berikutnya adalah mempublikasikan tulisan yang telah dibuat.setelah dipublikasikan maka kita lihat hasil penilaian dari pengunjung yang membaca artikel yang kita buat, jika mendapatkan hasil yang baik maka kita dapat pertahankan yang baik dari penulisan kita tetapi jika hasilnya kurang baik maka kita harus memperbaiki dari penulisan kita dan tidak lupa meminta komentar pada pengunjung yang telah membaca artikel dari yang kita buat.
Berikut cara pembuatan artikel menurut pendapat saya, dan tidak salah orang-orang mencoba membuat artikel dari sekarang karna banyak sekali keuntungan yang telah dijelaskan dari awal,selagi positif tidak ada salahnya buat informasi dan dapat juga sebagai sharing kepada orang lain.   

Rabu, 19 Oktober 2011

KRETEK JAWA

Kretek bukan sekadar komoditi. Dalam perjalanan sejarahnya ia juga membentuk sebuah kultur. Tidak hanya memasyarakatnya kebiasaan mengisap kretek, namun juga dampak industrialisasi kretek itu sendiri. Kebiasaan mengisap rokok sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat, khususnya Jawa. Sejumlah sumber susastra lama menyiratkan hal itu, meskipun tidak ada kejelasan apakah apa yang mereka isap saat itu merupakan rokok tembakau seperti yang kita kenal sekarang. Menurut hasil rieset Zoetmulder yang dikutip dalam buku ini, dalam kitab-kitab lama ada kata dasar udud yang diartikan sebagai rokok. Jika benar kata udud memiliki arti rokok seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa saat ini, maka itu berarti kebiasaan merokok sudah dikenal lama dalam masyarakat Jawa.
Lalu dari mana asal-usul kata kretek? Kretek diperkirakan muncul berdasarkan onomatope atau sebutan yang dimunculkan berdasarkan bunyi. Hal ini disebabkan rokok tembakau yang ditambah cengkeh akan menimbulkan bunyi kretek-kretek. Ada beberapa hal menarik yang disampaikan dalam buku ini. Salah satunya adalah mengenai buruh pabrik kretek. Sebuah pabrik kretek besar di Kudus, Jawa Tengah, misalnya, menjadi gantungan hidup bagi 75.000 buruh, baik dari Kudus ataupun kota-kota di sekitarnya. Para buruh ini terutama bekerja untuk memproduksi kretek lintingan. Kretek lintingan tidak diproduksi dengan mesin, melainkan mengandalkan kelincahan, kecepatan dan keterampilan jemari para buruh. Dari data yang ada, kehadiran para buruh kretek ini berhasil menggerakkan roda ekonomi lainnya. Sebut saja pemilik mobil angkutan umum, perahu penyeberangan, hingga para pedagang, rentenir, penitipan sepeda, yang hadir saat pasar dadakan muncul di sekitar brak (barak) penampungan para buruh. Dapat diduga, akan ada banyak sendi ekonomi rakyat yang lumpuh jika industri rokok mengalami kebangkrutan. Apalagi kini kampanye anti rokok kian gencar. Tampaknya otoritas terkait harus memberikan solusi jika memang industri rokok harus dibatasi.
Hal menarik lain yang diungkap dalam buku ini adalah mengenai label produk kretek yang beredar di pasaran. Dalam buku ini terungkap, pemberian label tidak sekadar perkara visual, namun juga bentuk simbolik dari ruang lingkup kebudayaan di jamannya, yang disebut juga sebagai “simbol ekspresif”. Lalu bagaimana dengan merek? Merek pun memiliki cerita lain. Buku ini mengungkapkan merek atau brand kretek selalu berkaitan dengan filosofi, keyakinan, dan inspirasi. Merek seakan memiliki kebermaknaan, baik bagi produsen kretek maupun konsumennya. Memilih merek pun sering dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mengaitkannya dengan harapan-harapan, falsafah yang diyakini akan membawa dampak positif. Etnis Tionghoa misalnya mengombinasikan benda ataupun angka agar produknya lebih mudah diterima masyarakat.
Buku ini secara umum berisi sejarah industri kretek, terutama sebelum masa kemerdekaan. Dari paparan sejarah tersebut pembaca dapat melihat pasang surut indutri kretek di Jawa. Dari sini dapat dinilai pengelolaan komoditi secara benar dapat memberikan banyak manfaat bagi pendapatan negara.

Judul                : Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya
Penulis             : Rudy Badil
Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman         : 171 halaman
Terbit              : Agustus 2011

RESENSI

Resensi adalah tulisan yang berisi menimbang atau menilai sebuah karya yang dikarang atau dicipta orang lain. Resensi itu asal katanya dari bahasa Belanda recensie. Karya yang dinilai dalam tulisan resensi meliputi buku, film, teater, lagu, dan semacamnya.  Secara umum, resensi dibagi menjadi 3, yaitu:
-          menggambarkan dan menjelaskan tentang karya seseorang secara menyeluruh,baik dari segi isi, penulisannya, maupun penciptanya. Resensi deskriptif ini tidak sampai pada penilaian kritik (bagus/tidak) si penulis terhadap karya yang dia resensi. Dia hanya menjelaskan secara singkat tentang isi, proses, dan pencipta sebuah karya.
-          resensi dengan karakter kedua ini melakukan penilaian terhadap sebuah karya lebih dalam dari yang pertama. Dia tidak hanya menggambarkan, tapi menilai sebuah karya secara keseluruhan dengan kritis dan argumentatif. Sehingga ada kesimpulan pada akhir resensi, apakah karya yang diresensi baik kualitasnya atau tidak.
-          resensi macam ketiga ini mencoba melakukan penilaian pada sebuah karya dengan cara membandingkan karya orang lain yang memiliki kesamaan atau keterkaitan secara isi dan materi. Disebut sulit, sebab selain membutuhkan analisa mendalam dan kritis, resensi macam ketiga ini membutuhkan pengetahuan dan wawasan luas. Tidak hanya satu karya yang harus dipahami, namun karya-karya lain yang berhubungan dengan karya yang diresensi harus pula dipahami.

Tujuan resensi buku adalah mengomunikasikan penilaian yang sudah ditimbang masak-masak
pada pembaca lain, agar mereka memutuskan ingin membaca buku tersebut atau tidak. Penting menyajikan resensi yang mudah dipahami pembaca, mampu memenuhi kebutuhan dan karakteristik mereka. Pembaca diharapkan akan mempertimbangkan pula masukan tersebut. Untuk mempermudah penulisannya dalam resensi buku, berikut beberapa upaya yang dilakukan:
-          Baca isi buku dengan pemahaman keilmuan yang kita miliki. Seorang yang tidak menguasaiteori sastra sama sekali, jelas akan kesulitan menganalisa buku sastra.
-          Peresensi yang baik setidaknya membaca isi buku secara lengkap, jika perlu berulang-ulangdan membandingkan dengan beberapa buku serupa. Tapi ini akan merepotkan danmenghabiskan energi. Peresensi yang demikian biasanya untuk penulisan jenis resensi kritik.Untuk jenis resensi informatif atau deskriptif, kita hanya mencari bagian-bagian point of viewdari tema buku, termasuk kata pengantar dan epilog. Namun demikian,hanya bisa diterapkan. Untuk mengulas buku ilmiah yang dimana bab per babnya disusun secara baku dan teratur dan buku jenis novel jelas tidak bisa diterapkan.
-          Pilih tema pokok yang ingin anda jelaskan dalam resensi. Point of view atau angle tidak boleh lebih dari satu. Hal ini untuk menghindari melebarnya pembahasan dari tema pokok.
-          Kutip beberapa materi dari isi buku sebagai data ulasan
-          Berikan penjelasan pada tulisan utama secara singkat dan deskriptif isi buku
-          Materi isi buku dijabarkan pada bagian struktur atau badan penulisan
-          Akhiri penulisan dengan komentar singkat. Peresensi yang baik akan menyanjung dan mengkritik secara objektif dan proporsional. Dan posisi peresensi dalam hal ini adalah sama dengan ilmuwan. Tak boleh subjektif dan distortif dalam menyampaikan ulasan. 


Senin, 26 September 2011

PROFIL PRIBADI

Nama saya adalah Fakhri Zulfikar, anak ke-3 dari 3 bersaudara. Saya beragama islam dan lahir pada tanggal 11 Desember 1991 diJakarta, dan saya sekarang berumur 19 tahun. Saya tinggal bersama orang tua dan kakak-kakak saya yang beralamat di Jalan Raya Penggilingan no.12 Rt.004 Rw.06 kecamatan Cakung Jakarta Timur.
Dalam dunia pendidikan saya memulai dengan memasuki TK (taman kanak-kanak) kasih ananda yang pada saat itu kira-kira berumur 5 tahun, selama saya disana sangat diajarkan kedisiplinan dalam segala sesuatu tetapi juga ada waktu untuk bermainnya. Lalu sekitar tahun 1998 saya mulai masuk SD (sekolah dasar) di SD Negeri 01 Penggilingan Jakarta Timur. Disana saya mengalami pembelajaran yang lebih meningkat dari sebelumnya, dan sekitar tahun 2003 saya lulus dari SD dan lanjut ke SMP Negeri 216 Jakarta yang beralamat  Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat. Disana saya pada awalnya masih sangat susah untuk menyesuaikan keadaannya karena letak dari rumah kesekolah itu sangatlah jauh, namun lama kemudian saya sudah bisa menyesuaikan dengan keadaan sekolah tersebut. Tahun 2006 saya lulus dari SMP dan lanjut ke tingkat SMA Negeri 4 Jakarta yang beralamat Jalan Batu Gambir Jakarta Pusat. Pada saat SMA saya sangat menikmati masa-masanya karena banyak orang berkata bahwa masa SMA sangatlah seru dijalaninnya. Selama 3 tahun saya sekolah dan akhirnya pada tahun 2009, saya lulus dari SMA yang langsung saya lanjutkan ke tingkat Perguruan Tinggi di Gunadarma Bekasi hingga sampai sekarang. Di Perguruan Tinggi ini saya mengambil jurusan Akuntansi yang saya harapkan dikemudian hari bisa menjadi akuntan public sesuai dengan perencanaan saya.
Selain itu kepribadian menurut saya adalah saya orang yang sangat komunikatif, loyalitas, fleksibel, memiliki motivasi yang tinggi dan mempunyai komitmen yang baik. Namun kejelekan dari kepribadian saya adalah saya sangat egois dan mudah putus asa. Namun dari semua itu mungkin orang lain lah yang dapat menilai diri saya secara lebih tepat.        

Jumat, 23 September 2011

Penalaran Induktif dan Deduktif

Penalaran merupakan suatu cara seseorang mengunakan nalarnya dalam menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan dikemukakannya kepada orang lain.
Ada dua macam pola penalaran, yaitu:

•Metode Induktif
Metode induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Bentuk dari metode induktif adalah generalisasi dan analogi.
Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Prosesnya disebut induksi. Penalaran induktif dapat berbentuk generalisasi, analogi, atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses berpikir berdasarkan hasil pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Analogi merupakan cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan akibat-akibat.
Jenis-jenis penalaran induktif antara lain :
1.Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contoh Generalisasi :
• Nikita Willy adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
• Marshanda adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
Generalisasi:
Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya:
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.


2. Analogi
Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Analogi mempunyai 4 fungsi,antara lain :
•Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan
•Meramalkan kesaman
•Menyingkapkan kekeliruan
•klasifikasi

Contoh analogi :
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
•Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan umum ke individual.
Penalaran deduktif adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya, apa yang dikemukakan dalam kesimpulan sudah tersirat dalam premisnya. Jadi, proses deduksi sebenarnya tidak menghasilkan suatu konsep baru, melainkan pernyataan atau kesimpulan yang muncul sebagai konsistensi premis-premisnya.

Contoh klasik dari penalaran deduktif:
• Semua manusia pasti mati (premis mayor)
• Sokrates adalah manusia (premis minor)
• Sokrates pasti mati (kesimpulan)

Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat. Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif.